Minggu, 20 Oktober 2013

Minggu Ceria bersama Dua pria bermata Sipit dan Para Wali Murid

0 komentar
Minggu, 20 Oktober 2013 tepatnya pukul tiga sore, suasana ramai tampak dari pekarangan Taman Pendidikan Masyarakat Tanyoe (TPMT) yang berada di Desa Lambirah, Sibreh, Aceh Besar. Pekarangan mungil itu dilingkari oleh pepohonan dan dua bangunan kecil, satu mushalla dan satu lagi balai pemuda. Disana, terlihat anak-anak usia sekolah dasar bermain gembira di lapangan Volly yang terletak tepat di hadapan gedung TPMT. 

Merekalah Seratusan lebih murid TPMT di tahun ajaran baru ini, mereka bermain bersama dipandu oleh pengurus  TPM. Peraturan permainannya adalah Meniup balon hingga meletus. Siapa yang lebih dulu balonnya meledak berarti dialah pemenangnya.
***
Sedangkan di dalam Mushalla yang jaraknya hanya selemparan batu dari tempat anak-anak bermain, para wali murid TPMT sedang mengadakan pertemuan dengan jajaran pengurus inti TPMT. Tujuan dari pertemuan ini adalah sejenis sosialisasi kepada wali murid akan kegiatan di TPMT, yang membahas mulai dari TPMT itu apa, hingga bagaimana peran orang tua murid terhadap perkembangan TPMT kedepan, beserta peraturan-peraturan yang dipatuhi oleh para murid di TPM itu sendiri.

Dukungan orang tua murid terlihat jelas dari kesediaan mereka menghadiri rapat tersebut, dan berpartisipasi dengan sungguh-sungguh dalam diskusi. Bahkan tak jarang yang memberikan pertanyaan dan usulan mengenai perkembangan TPMT ke depan. “Buk, anak saya tidak bisa hadir setiap hari jumat karena dia beradu dengan jadwal TPA-nya, bagaimana kira-kira? Apa dia boleh ikut kegiatan di TPMT?” Begitulah tanya salah seorang wali murid yang dituju kepada Husnul Khatimah selaku Direktur TPM dan juga yang memimpin rapat hari itu. Baru kali ini Husnul dipanggil dengan sebutan “Buk" oleh ibu-ibu, tapi ia senang-senang saja. Rapat itu berjalan lancar dan berakhir sekitar pukul empat sore.

***

Terlihat dua mobil memasuki pekarangan TPMT. Satu mobil Kijang Innova hitam dan satu lagi Toyota Rush silver. Turunlah orang-orang bermata sipitn yang parasnya berbeda dengan orang Aceh dan 10 orang lainnya yang berasal dari Peukan Bada, Aceh Besar. Dua pria yang bermata sipit itu mengenakan busana yang berbeda, Satu memakai kemeja pink dengan kamera kecil di tangan dan satu lagi berpostur tinggi besar mengenakan kaos merah berkerah. Dua orang tersebut berkebangsaan Jepang dan beberapa orang lagi sebagai penerjemah mereka yang berasal dari Aceh. Mereka mendirikan sekolah “Kogetsu School” di Peukan Bada Aceh Besar yang mengajari tentang Bahasa Jepang dan Bahasa Inggris.

Semua orang tua murid yang baru saja selesai mengikuti rapat, ikut terpaku melihat kedatangan tamu dari Jepang. Maklum saja, dengan letak daerah di pelosok dan jauh dari pusat Kota Banda Aceh yang membuat orang-orang luar negeri tidak pernah datang. Biasanya mereka hanya melihat orang asing dari TV.

Taekhyun Lee nama pria yang memakai kaos merah dan Watanabe Yiuchi pria yang mengenakan kemeja pink. Kunjungan mereka dilatarbelakangi oleh rasa penasaran mereka akan TPMT, dimana sebagai sebuah wadah yang memberikan pendidikan secara cuma-cuma kepada anak-anak pelosok.

Pak Watanabe (begitulah ia kerap disapa) tak pernah luput merekam setiap pergerakan demi pergerakan dari permainan yang dimainkan oleh murid-murid tersebut. Sementara Pak Lee, tak pernah luput menuliskan setiap pembicaraannya dengan Husnul dan pengurus-pengurus TPMT diterjemahkan oleh Fahrur Rozi yang berasal dari rombongan orang jepang tersebut. Seringkali senyuman tersungging dari wajah kedua pria bermata sipit itu saat balon-balon yang ditiup meledak dan anak-anak berteriak kegirangan. 

“Sangat-sangat terkesan dengan TPMT ini karena diajari oleh relawan-relawan muda dengan suka rela tanpa imbalan dan sangat luar biasa. Dan saya sangat terkesan dengan perkembangannya, dimana Tahun lalu hanya sedikit siswa yang datang, sedangkan sekarang jauh lebih banyak. Itu betul-betul luarbiasa” kata Taekhyun Lee. Sebelumnya ia pernah juga mengunjungi TPMT, tepatnya tahun lalu, tetapi saat itu murid TPMT tidak seramai hari ini. Sebelumnya hanya sekitar tiga puluhan murid yang datang, dimana sekarang jauh melampui jumlah itu. 

Menurutnya ini bukanlah hal yang mudah, "tetapi kalian sudah berhasil mendirikan hingga sedemikian rupa," katanya memuji TPM. Ia juga meyakini jika keadaan internal di TPM itu erat maka kemajuan akan mudah diraih.

“Biasanya organisasi luar yang datang ke suatu daerah dan membangun daerah tersebut, tetapi kini kalian sendiri selaku SDM lokal yang membangun daerah sendiri” kata Wanatabe Yuichi seraya merekam percakapan antara Taekhyun Lee dengan Husnul.

Ia juga melanjutkan komentarnya, "saya akan memposting di YouTube dan juga akan membantu mempublish hasil rekaman saya ini kepada orang-orang Jepang ketika nanti saya pulang kampung, siapa tahu ada yang berminat memberikan bantuan kepada kalian."

Rasanya tak lengkap tanpa ada foto bersama pengurus dan rambongan yang hadir, maka kegiatan terakhir dari kunjungan mereka adalah foto bersama pengurus TPM. Sekitar pukul enam sore mereka kembali dan meninggalkan TPM.



Leave a Reply